Banjir besar di Sumatra jelang akhir 2025 bukan sekadar bencana alam, melainkan juga bencana iklim. Cuaca ekstrem memang terjadi karena perubahan dari iklim Bumi yang semakin panas. Namun selain itu, banjir ini juga diperparah akibat perusakan hutan secara terus menerus.
Pejabat pemerintah menyebut banjir dan tanah longsor terjadi akibat curah hujan yang tinggi. Namun kelompok pemerhati lingkungan hidup mengatakan bencana tersebut adalah contoh terbaru dari dampak penggundulan hutan dan pengabaian terhadap lingkungan.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengatakan, bencana tersebut terjadi karena peristiwa cuaca ekstrem dan ‘krisis ekologi’. “Bencana ini bukan hanya diakibatkan oleh intensitas hujan, namun sebagai dampak akumulatif dari kerusakan-kerusakan ekosistem yang terjadi selama ini,” tulis WALHI dalam salah satu postingan di akun Instagramnya.
Indonesia adalah rumah bagi hutan hujan terbesar ketiga di dunia. Namun sejak 1950, lebih dari 74 juta hektar hutan hujan telah hancur.
Berdasarkan data Global Forest Watch yang memantau hutan dunia secara real time, Indonesia telah menebang pohon dan membakar hutan untuk membuka lahan untuk pertambangan dan produk-produk seperti kelapa sawit, kertas, dan karet.
Untuk diketahui, negara Asia Tenggara adalah produsen minyak sawit terbesar. Kawasan ini adalah salah satu eksportir batu bara terbesar dan produsen utama produk kertas yang disebut pulp. Asia Tenggara juga mengekspor minyak, gas, karet, dan sumber daya lainnya.
Selain itu, Indonesia memiliki salah satu cadangan nikel terbesar di dunia. Nikel adalah logam penting yang digunakan dalam barang-barang yang dibutuhkan dalam produk energi ramah lingkungan seperti kendaraan listrik dan panel surya.
Global Carbon Project, organisasi yang memantau produksi gas rumah kaca penyebab pemanasan global, menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu produsen terbesar gas-gas tersebut akibat pembakaran bahan bakar fosil dan pembabatan hutan.
Bank Dunia juga mengatakan Indonesia bisa merasakan dampak perubahan iklim secara signifikan. Dampak tersebut antara lain banjir, cuaca kering, kenaikan permukaan air laut, peningkatan suhu, dan curah hujan yang tidak biasa.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah merasakan dampak perubahan iklim. Dampak-dampak tersebut termasuk hujan yang lebih deras pada musim hujan dan lebih banyak kebakaran pada musim kemarau yang lebih panjang.
Pakar keberlanjutan yang mempelajari Indonesia Aida Greenbury, mengatakan hutan dapat membantu mengurangi dampak dari beberapa kejadian cuaca ekstrem.
Misalnya, tanaman dapat memperlambat banjir dengan menyerap air hujan dan mengurangi erosi. Pada musim kemarau, tanaman mengeluarkan air yang dapat membantu mengatasi dampak cuaca kering, termasuk kebakaran. Namun ketika hutan hilang, dampak-dampak bermanfaat ini juga ikut hilang.
Sebuah studi di 2017 melaporkan bahwa penggundulan hutan dapat menyebabkan erosi tanah karena tanah yang tidak terlindungi hilang akibat curah hujan, dan memanen tanaman dapat menyebabkan tanah menjadi lebih padat. Hal ini dapat menyebabkan hujan mengalir ke permukaan tanah, bukannya masuk ke reservoir bawah tanah.
Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa erosi dapat meningkatkan jumlah tanah di sungai, sehingga dapat meningkatkan risiko banjir.
Pasca banjir mematikan pada Maret 2024, Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah mengatakan ada tanda-tanda kuat terjadinya penebangan pohon ilegal di wilayah yang terkena dampak banjir dan tanah longsor.
Pada bencana November 2025 kali ini pun, di media sosial viral sejumlah video menampilkan banjir bandang membawa muatan gelondongan kayu di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Sibolga. Netizen menduga kuat itu merupakan praktek ilegal logging yang ikut memperparah banjir dan longsor.
Para ahli dan aktivis lingkungan hidup menunjukkan bahwa deforestasi juga memperburuk bencana di wilayah lain di Indonesia. Pada 2018, Presiden Indonesia ke-8 Joko Widodo memang menghentikan sementara izin baru perkebunan kelapa sawit selama tiga tahun. Menurut klaim data pemerintah, laju deforestasi melambat antara tahun 2021 dan 2022.
Namun para ahli memperingatkan bahwa deforestasi di Indonesia tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Mereka mengatakan hal ini karena pemerintah terus melanjutkan proyek pertambangan dan struktur baru.
Seperti diketahui, Presiden ke-8 Prabowo Subianto sejak menjabat pada Oktober 2024, telah berjanji untuk melanjutkan kebijakan pembangunan Jokowi. Perlu diingat, kebijakan pembangunan mencakup pertambangan dan proyek-proyek lain yang semuanya terkait dengan deforestasi.
Para aktivis lingkungan juga memperingatkan bahwa perlindungan lingkungan di Indonesia sedang melemah. Hal ini termasuk undang-undang baru yang menghapus pasal undang-undang yang melindungi sebagian hutan dari pembangunan. Mengutip pernyataan Arie Rompas dari Greenpeace Indonesia, “Penghapusan pasal tersebut membuat kami sangat khawatir (tentang deforestasi) di tahun-tahun mendatang.”







