Wintechmobiles.com – Ledakan teknologi AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi dengan teknologi. Perkembangan ini juga menggeser peta kekayaan global secara signifikan.
Sejumlah tokoh besar teknologi menikmati lonjakan kekayaan seiring pertumbuhan industri kecerdasan buatan. Nama seperti Jensen Huang dan Sam Altman semakin tajir karena valuasi AI melonjak.
Namun, miliarder baru teknologi AI tidak hanya datang dari nama besar. Era ini juga melahirkan pendiri startup yang sebelumnya hampir tidak dikenal publik.
Lonjakan valuasi startup AI bernilai tinggi dalam satu tahun terakhir mengubah kepemilikan saham menjadi sumber kekayaan luar biasa. Banyak pendiri muda menikmati kenaikan aset dalam waktu singkat.
Berikut deretan tokoh di balik ledakan teknologi AI yang kekayaannya melesat berkat valuasi perusahaan yang meroket.
Mira Murati menjadi contoh nyata lahirnya miliarder baru teknologi AI. Mantan eksekutif OpenAI ini mendirikan Thinking Machines Lab pada Februari 2025.
Startup tersebut langsung mencatat valuasi sekitar 10 miliar dollar AS atau setara Rp 167,74 triliun. Pencapaian ini muncul meski produk belum diluncurkan secara luas.
Kepercayaan investor mencerminkan reputasi Murati serta potensi teknologi AI yang dikembangkan. Fenomena ini menunjukkan kuatnya daya tarik industri kecerdasan buatan.
Brett Adcock juga mengalami lonjakan kekayaan berkat AI. Ia mendirikan Figure AI pada 2022 dengan fokus robot humanoid berbasis kecerdasan buatan.
Minat industri terhadap otomatisasi fisik mendorong valuasi perusahaan meningkat tajam. Kekayaan bersih Adcock kini diperkirakan mencapai 19,5 miliar dollar AS atau Rp 327,09 triliun.
Aravind Srinivas mendirikan Perplexity pada 2022 sebagai mesin pencari berbasis AI generatif. Perusahaan ini berkembang cepat dan kini bernilai sekitar 20 miliar dollar AS.
Valuasi tersebut setara Rp 335,48 triliun dan menempatkan Srinivas sebagai miliarder baru teknologi AI. Ia tetap menekankan fokus pada kualitas informasi dan pencarian pengetahuan.
Lonjakan serupa dialami Harvey, startup perangkat lunak hukum berbasis AI. Winston Weinberg dan Gabe Pereyra mendirikan perusahaan ini dengan pertumbuhan valuasi ekstrem.
Dalam beberapa bulan, nilai Harvey melonjak dari 3 miliar menjadi 8 miliar dollar AS. Angka ini setara sekitar Rp 134,19 triliun.
Salah satu pendirinya menyebut kekayaan tersebut masih bersifat di atas kertas. Pernyataan ini menyoroti rapuhnya status miliarder yang bergantung pada valuasi startup.
Alexandr Wang membangun Scale AI secara relatif senyap sebelum mendapat sorotan global. Startup pelabelan data ini melonjak hingga 14,3 miliar dollar AS.
Nilai tersebut setara Rp 239,87 triliun setelah investasi besar dari Meta. Wang kemudian ditunjuk sebagai Chief AI Officer Meta.
Lucy Guo juga masuk jajaran miliarder baru teknologi AI. Meski keluar dari Scale AI sejak 2018, kepemilikan saham awal tetap memberinya kekayaan besar.
Dengan valuasi perusahaan yang sama, kekayaan Guo mengacu pada angka 14,3 miliar dollar AS. Ia menjadi salah satu sedikit perempuan di level ini.
Saat ini, Guo aktif membangun firma modal ventura dan bisnis ekonomi kreator. Perannya memperluas pengaruh perempuan dalam industri kecerdasan buatan.
Gelombang miliarder AI juga datang dari generasi sangat muda. Mercor didirikan oleh Brendan Foody bersama Adarsh Hiremath dan Surya Midha.
Saat mendirikan perusahaan, para pendiri masih berusia awal 20-an. Startup data berbasis AI ini dihargai sekitar 10 miliar dollar AS.
Nilai tersebut setara Rp 167,74 triliun dan menjadikan mereka miliarder termuda di era ledakan teknologi AI.
Fenomena serupa terlihat pada Cursor di bawah Anysphere. Perusahaan ini didirikan Michael Truell bersama Sualeh Asif, Aman Sanger, dan Arvid Lunnemark.
Setelah pendanaan besar pada 2025, valuasi Cursor melonjak hingga 27 miliar dollar AS. Angka ini setara Rp 452,90 triliun.
Lonjakan valuasi tersebut langsung mengangkat para pendiri muda ke jajaran miliarder teknologi. Usia mereka masih berada di kisaran 20-an.
Deretan miliarder baru teknologi AI ini dirangkum dari laporan The New York Times. Laporan tersebut menyoroti dampak besar ledakan teknologi AI.
Meski angka valuasi tampak fantastis, sebagian besar kekayaan masih bersifat di atas kertas. Status ini bergantung pada kemampuan startup bertahan di pasar global.
