Wintechmobiles.com – Meta kembali melakukan pemutusan hubungan kerja secara massal terhadap karyawannya. Kali ini, perusahaan induk Facebook, WhatsApp, dan Instagram tersebut memangkas ribuan tenaga kerja. Divisi yang terdampak adalah Reality Labs.
Berdasarkan laporan Fast Company, Meta telah memberi pemberitahuan kepada karyawan terkait. Sekitar 10 persen posisi di divisi Reality Labs akan dihapus. Kebijakan ini berdampak signifikan terhadap struktur internal perusahaan.
Reality Labs diketahui mempekerjakan sekitar 15.000 orang. Dengan pengurangan hingga 10 persen, jumlah karyawan terdampak diperkirakan mencapai 1.500 orang. Meta PHK massal ini menambah daftar efisiensi perusahaan teknologi global.
Informasi PHK Meta Reality Labs sebelumnya dilaporkan oleh Bloomberg dan The New York Times. Meta kemudian mengonfirmasi kabar tersebut kepada Fast Company pada Selasa (13/1/2026) waktu setempat. Konfirmasi ini mengakhiri spekulasi yang beredar sejak awal pekan.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Dalam memo internal, CTO Meta Andrew Bosworth menyampaikan agenda penting. Ia menjadwalkan pertemuan dengan seluruh karyawan Reality Labs. Pertemuan tersebut disebut sebagai pertemuan paling penting dalam waktu dekat.
Bosworth juga menyinggung estimasi pemangkasan karyawan sebesar 10 persen. Informasi tersebut disampaikan langsung kepada tim internal. Langkah ini menandai perubahan arah strategis Meta.
Peralihan fokus ke perangkat wearable mulai terlihat sejak bulan lalu. Seorang juru bicara Meta menyatakan bahwa sebagian investasi dialihkan dari metaverse. Dana tersebut kini difokuskan pada pengembangan wearable.
Langkah ini disebut sebagai strategi untuk memperkuat lini produk dengan potensi pertumbuhan lebih besar. Meta berencana menginvestasikan kembali penghematan biaya. Target utamanya adalah mendukung pertumbuhan wearable sepanjang tahun ini.
Bosworth mengonfirmasi pernyataan tersebut dalam unggahan internal. Ia menyebut Meta mengubah prioritas dari teknologi virtual dan augmented reality. Sumber daya metaverse akan difokuskan ulang.
Ke depan, pengembangan metaverse lebih diarahkan ke pengalaman berbasis perangkat mobile. Pendekatan ini dinilai memiliki basis pengguna lebih luas. Tingkat pertumbuhan mobile juga dianggap paling cepat saat ini.
Meski fokus bergeser, Meta menegaskan pengembangan headset VR tidak dihentikan sepenuhnya. Divisi VR tetap beroperasi dalam struktur yang lebih ramping. Peta jalan pengembangan akan dibuat lebih terfokus.
Reality Labs merupakan divisi Meta yang menangani AR dan VR. Divisi ini selama ini menjadi ujung tombak proyek metaverse. Namun, metaverse dinilai gagal menarik minat konsumen secara luas.
Sebelum berada di bawah Meta, divisi ini dikenal sebagai Oculus. Perusahaan tersebut diakuisisi pada 2014, saat Meta masih bernama Facebook. Sejak itu, Reality Labs memimpin inovasi VR perusahaan.
Selain headset VR, divisi ini juga mengembangkan Ray-Ban Stories. Platform dunia virtual Horizon World juga berada di bawah tanggung jawab Reality Labs. Namun, kinerjanya belum memenuhi ekspektasi pasar.
Pergeseran fokus Meta ke AI dan mobile dinilai tidak mengejutkan. Dalam beberapa tahun terakhir, metaverse menunjukkan pertumbuhan terbatas. Sebaliknya, teknologi AI berkembang pesat sejak 2022.
Pada 2021, Mark Zuckerberg mengumumkan transformasi Facebook menjadi Meta. Perubahan nama ini menandai ambisi besar di dunia virtual. Namun, lebih dari empat tahun berlalu, metaverse belum menjadi arus utama.
Setelah kabar Meta PHK massal mencuat, reaksi pasar langsung terlihat. Saham Meta Platforms tercatat turun lebih dari 2 persen. Penurunan terjadi pada perdagangan siang hari Selasa di Nasdaq.
