Indonesia terus mempersiapkan diri memasuki era teknologi 6G. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mengembangkan dua teknologi kunci: perangkat sub-terahertz (sub-THz) berbasis optikal dan arsitektur jaringan cloud cerdas. Keduanya digadang menjadi fondasi utama sistem komunikasi ultra-cepat generasi mendatang.
Peneliti Pusat Riset Telekomunikasi BRIN, Ken Paramayudha, menjelaskan bahwa spektrum sub-terahertz merupakan kandidat kuat untuk menghadirkan komunikasi berkecepatan sangat tinggi di era 6G. Pada webinar PRT #6 bertema “Teknologi Kunci untuk Beyond 5G: Inovasi Spektrum Sub-THz dan Arsitektur Jaringan Terdistribusi”, Kamis (27/11) lalu, ia memaparkan bahwa kebutuhan data pada 6G diprediksi bisa mencapai 100 kali lebih cepat dibanding 5G.
“Teknologi telekomunikasi akan semakin maju dan beralih menuju 6G. Di mana, kebutuhan akan kecepatan data dapat mencapai hingga seratus kali lebih cepat dibanding 5G,” ujar Ken.
Ken menuturkan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah membangun perangkat yang mampu menghasilkan sinyal sub-terahertz secara stabil dan efisien. Tim peneliti BRIN menggunakan pendekatan difference frequency generation (DFG) dengan memanfaatkan material optik non-linear yang diintegrasikan ke dalam rectangular waveguide.
Pendekatan tersebut memungkinkan perangkat menghasilkan continuous wave signal pada temperatur ruangan, sehingga lebih praktis untuk implementasi industri. Dalam riset awal, perangkat berhasil memproduksi sinyal hingga 100 GHz, capaian penting untuk membangun komunikasi ultra-kecepatan di masa depan.
Ken juga menunjukkan bahwa integrasi teknologi fotonik dan microwave melalui desain resonansi dan simulasi CST meningkatkan efisiensi penguatan sinyal. Teknologi ini membuka peluang untuk aplikasi:
“Perangkat ini dapat diterapkan untuk aplikasi high-speed optical-electrical conversion dan transmitter radio berbasis serat optik,” jelas Ken.
Pada sesi lain, Arief Indra Irawan, PhD student di Okayama University, mengulas tantangan komunikasi cloud intelijen yang menjadi salah satu pilar jaringan 6G. Ia memfokuskan paparannya pada privacy processing dalam service function chaining (SFC) di area multi-domain virtual networking.
Arief menekankan bahwa virtualisasi jaringan kini menjadi fondasi penting telekomunikasi modern. Dengan jaringan virtual, layanan dapat diatur lebih fleksibel sesuai kebutuhan aplikasi dan kondisi trafik.
Salah satu teknologi penting yang didorong adalah deep reinforcement learning (DRL), algoritma kecerdasan buatan yang dapat melakukan pengambilan keputusan adaptif.
“6G menuntut konektivitas full-dimensional multi-access yang mencakup integrasi darat, udara, dan satelit. Keputusan jaringan harus bersifat cerdas karena DRL mampu melakukan optimasi jangka panjang berdasarkan lingkungan operasional,” jelas Arief.
DRL memungkinkan jaringan:
Kombinasi riset perangkat sub-terahertz dan pengembangan arsitektur cloud cerdas menjadi langkah penting bagi Indonesia untuk memperkuat perannya dalam ekosistem 6G global. BRIN menilai bahwa inovasi material, integrasi fotonik-microwave, virtualisasi, dan kecerdasan jaringan akan menjadi pilar utama telekomunikasi masa depan.
Dengan riset yang terus berjalan, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi pengguna 6G ketika teknologi ini matang sekitar 2030-2035, tetapi juga turut berkontribusi dalam pengembangan teknologi intinya.
Inovasi Sub-THz: Produksi Sinyal 100 GHz
Cloud Cerdas 6G








