TikTok mematikan fitur Live karena situasi memanas di Indonesia. Namun pakar menilai akar masalahnya bukan pada media sosial.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Menurut Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi, langkah TikTok mematikan fitur live tidak efektif untuk mencegah orang menonton konten demonstrasi. Orang pasti akan mencari alternatif medsos untuk mencari informasi, misalnya YouTube. Tak cuma yang ditonton, tapi WhatsApp Group juga berseliweran.
“Informasi akan menemukan jalannya sendiri. Akar persoalan bukan medianya, tapi hubungan pemerintah dengan rakyat, hubungan DPR dengan rakyat,” kata kepada infoINET, Minggu (31/8/2025).
Ada banyak platform yang memiliki fitur Live. Namun, baru TikTok yang mematikan fitur itu. Heru menilai ada faktor audiens, tapi sekali lagi langkah mematikan fitur ini dia nilai percuma karena masih ada pilihan medsos lain.
“Mungkin karena TikTok penggunanya adalah Gen Z dan milenial, dibanding YouTube dan Facebook. Tapi mereka ini nggak cuma lihat TikTok, mereka lihat YouTube juga. Sekarang YouTube naik juga penontonnya kan (karena demo-red),” jelas Heru.
Yang disayangkan, ada orang yang mencari uang dari TikTok Live, kini jadi terhambat rezekinya. “Cukup disesalkan banyak yang memburu rezeki lewat fitur itu, tapi situasi lagi begini juga. Mungkin mereka bisa mencari alternatif lain,” pungkasnya.
Sebelumnya, TikTok pada Sabtu (30/8) mengumumkan mematikan fitur Live untuk sementara waktu, terkait kondisi keamanan. TikTok ingin tetap menjadi ruang digital yang aman.
“Sehubungan dengan meningkatnya kekerasan dalam aksi unjuk rasa di Indonesia, kami mengambil langkah-langkah pengamanan tambahan untuk menjaga TikTok tetap menjadi ruang yang aman dan beradab,” kata Jubir TikTok.
Langkah yang diambil TikTok adalah menangguhkan fitur Live. Mereka juga menegaskan akan menghapus konten yang melanggar aturan.
“Sebagai bagian dari langkah ini, kami secara sukarela menangguhkan fitur TikTok Live selama beberapa hari ke depan di Indonesia. Kami juga terus menghapus konten yang melanggar Panduan Komunitas dan memantau situasi yang ada,” pungkas Jubir TikTok.
Atas keputusan TikTok ini, Kementerian Komdigi memberikan apresiasinya. “Inisiatif TikTok, voluntary. Kami mengapresiasi langkah inisiatif yang diambil oleh TikTok,” kata Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar.