CEO Nvidia Jensen Huang

Pesan Bos Nvidia untuk Pemimpin Negara Soal AI Nasional

Posted on

Wintechmobiles.com – Pesan Bos Nvidia disampaikan langsung oleh CEO Nvidia, Jensen Huang, kepada para pemimpin negara yang hadir dalam ajang World Economic Forum di Davos, Swiss. Ia menyerukan perubahan cara pandang pemerintah terhadap peran kecerdasan buatan.

Dalam forum tersebut, Jensen Huang menegaskan bahwa AI tidak lagi layak diperlakukan sekadar sebagai produk teknologi canggih. Menurutnya, AI harus diposisikan sebagai infrastruktur nasional yang memiliki tingkat urgensi tinggi.

AI sebagai infrastruktur, kata Huang, setara dengan jaringan listrik, jalan raya, dan sistem telekomunikasi. Tanpa fondasi tersebut, sebuah negara modern dinilai tidak akan mampu berfungsi optimal maupun bersaing secara global.

Pesan Bos Nvidia juga menyoroti konsep kedaulatan AI atau sovereign AI. Dalam diskusi bersama CEO BlackRock, Larry Fink, Huang menekankan pentingnya negara menguasai dan mengelola kecerdasan buatan sendiri.

Setiap negara, menurut Huang, memiliki aset berharga berupa data. Data tersebut mencakup sejarah, budaya, bahasa, dan pengetahuan yang membentuk identitas nasional.

Data nasional diibaratkan sebagai sumber daya alam baru di era digital. Sumber daya ini dinilai harus dilindungi dan diolah secara mandiri oleh masing-masing negara.

Jensen Huang mengingatkan risiko besar jika sebuah negara tidak memiliki infrastruktur AI sendiri. Pengolahan data nasional berpotensi dilakukan pihak asing apabila tidak dikelola secara domestik.

Ia menegaskan bahwa AI harus dibangun sendiri agar kecerdasan digital yang dihasilkan mencerminkan nilai dan karakter bangsa. Ketergantungan pada pihak luar dinilai dapat mengaburkan identitas tersebut.

Pesan Bos Nvidia juga menyentuh kekhawatiran publik terkait dampak AI terhadap lapangan pekerjaan. Huang menepis anggapan bahwa AI akan menjadi ancaman utama bagi tenaga kerja manusia.

Menurutnya, AI justru merupakan teknologi yang paling mendemokratisasi komputasi. Hambatan teknis dalam berinteraksi dengan komputer dinilai semakin berkurang.

Jika sebelumnya penguasaan bahasa pemrograman menjadi syarat utama, kini instruksi dapat diberikan menggunakan bahasa sehari-hari. Perubahan ini diyakini akan meningkatkan produktivitas manusia.

AI dipandang sebagai asisten cerdas yang membantu pekerja menyelesaikan masalah kompleks secara lebih efisien. Perannya diarahkan untuk mendampingi, bukan menggantikan manusia.

Meski demikian, penerapan AI sebagai infrastruktur nasional menghadapi tantangan besar pada sektor energi. Pusat data atau pabrik AI membutuhkan pasokan listrik dalam skala masif.

Kesiapan infrastruktur kelistrikan suatu negara dinilai akan menentukan kemampuan mereka dalam membangun dan mempertahankan kedaulatan AI secara berkelanjutan.