Limbah plastik, terutama mikroplastik yang berukuran sangat kecil, sudah menjadi ancaman terhadap kesehatan lingkungan. Tapi menurut studi terbaru, limbah plastik jadi makin berbahaya karena cuaca yang ekstrem.
Tim ilmuwan meneliti ratusan studi dan menemukan bukti yang cukup bahwa perubahan iklim memperburuk polusi plastik di air, tanah, atmosfer, dan alam liar. Temuan ini dipaparkan dalam analisis yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Science.
“Polusi plastik dan iklim adalah krisis yang saling memperburuk satu sama lain,” kata penulis utama Frank Kelly, seorang profesor di School of Public Health Imperial College London, seperti dikutip dari CNN, Minggu (30/11/2025).
Meningkatnya suhu, kelembapan, dan sinar matahari memecah plastik dan mempercepat disintegrasinya menjadi pecahan-pecahan kecil. Kenaikan suhu 10 derajat Celsius saat gelombang panas ekstrem dapat mempercepat laju degradasi plastik.
Badai ekstrem, banjir, dan angin kencang juga membuat plastik cepat hancur dan menyebarkannya dengan luas. Badai topan di Hong Kong, contohnya, mempercepat konsentrasi mikroplastik di sedimen pantai hingga 40 kali lipat.
Banjir juga dapat menciptakan ‘batu plastik’, sebuah fenomena di mana bebatuan dan plastik membentuk ikatan kimia dan menyatu. Batu-batuan ini menjadi pusat bagi pembentukan mikroplastik.
Kebakaran hutan, yang dipicu kekeringan dan suhu tinggi, dapat menghanguskan rumah, kantor, dan kendaraan serta melepaskan mikroplastik dan senyawa yang beracun ke atmosfer.
Perubahan iklim juga bisa membuat limbah plastik jadi makin berbahaya. Mikroplastik berperan sebagai ‘Kuda Troya’ yang membawa senyawa berbahaya seperti pestisida dan PFAS alias senyawa kimia abadi yang tidak bisa terdegradasi dengan cepat di lingkungan.
Temperatur yang semakin tinggi dapat membantu plastik menyerap dan melepaskan senyawa berbahaya ini dengan lebih mudah, serta meningkatkan kemampuannya dalam melarutkan bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam plastik itu sendiri.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Studi ini merekomendasikan sejumlah solusi untuk mengatasi krisis limbah plastik, termasuk mengurangi penggunaan plastik, menggunakan ulang, dan mendaur ulang, serta merancang ulang produk dan menghindari penggunaan plastik sekali pakai.
Harapan terbesar para ilmuwan adalah perjanjian global terkait plastik yang mengikat secara hukum dan bertujuan untuk mengakhiri polusi. Namun, negosiasi yang sudah berlangsung bertahun-tahun belum bisa menghasilkan perjanjian karena banyak negara yang masih terbelah soal produksi plastik.
“Kita harus bertindak sekarang, karena plastik yang dibuang saat ini mengancam gangguan ekosistem berskala global di masa depan,” kata Stephanie Wright, penulis studi dan profesor di School of Public Health Imperial College London.
