Beritagosip.com Ubisoft melakukan reset bisnis besar-besaran dalam strategi perusahaannya. Pengembang dan penerbit game asal Prancis tersebut mengambil langkah restrukturisasi menyeluruh yang digambarkan sebagai reset dan restart, layaknya memulai ulang permainan dari awal.
Pada Rabu 21 Januari 2026, Ubisoft mengumumkan pembatalan enam proyek game, penundaan tujuh judul lain, penutupan dua studio, serta pemutusan hubungan kerja karyawan. Seluruh langkah tersebut menjadi bagian dari reset bisnis Ubisoft untuk menata ulang arah perusahaan.
Salah satu proyek yang dipastikan dibatalkan adalah Prince of Persia The Sands of Time Remake. Game action adventure tersebut telah lama dinantikan dan sebelumnya sempat mengalami reboot pengembangan.
Selain proyek tersebut, Ubisoft juga membatalkan tiga game baru yang masih berupa IP baru. Satu game mobile serta satu proyek lain yang belum diumumkan ke publik turut dihentikan dalam proses restrukturisasi Ubisoft.
Ubisoft tidak merinci daftar tujuh game yang ditunda. Namun, salah satu judul yang diyakini terdampak adalah remake Assassin’s Creed Black Flag yang sebelumnya dirumorkan akan rilis sebelum Maret 2026.
CEO Ubisoft Yves Guillemot menyebut reset bisnis Ubisoft sebagai langkah krusial. Ia menilai keputusan ini diperlukan untuk mengembalikan daya saing perusahaan dalam jangka panjang.
Guillemot menyatakan bahwa industri game AAA kini semakin selektif dan membutuhkan biaya besar. Di sisi lain, game berkualitas tinggi dinilai memiliki potensi finansial yang belum pernah sebesar saat ini.
Menurut Guillemot, reset besar dilakukan untuk membangun fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan. Ia menegaskan Ubisoft perlu kembali fokus, efisien, dan kompetitif di tengah tekanan industri global.
Dampak penundaan proyek membuat beberapa game diperkirakan baru meluncur pada tahun fiskal berikutnya. Rilis tersebut disebut bergeser hingga sebelum Maret 2027.
Restrukturisasi Ubisoft juga berdampak langsung pada operasional studio. Ubisoft mengonfirmasi penutupan penuh Ubisoft Stockholm dan studio mobile Ubisoft Halifax.
Selain penutupan studio, pemutusan hubungan kerja dan reorganisasi terjadi di sejumlah kantor. Beberapa lokasi yang terdampak antara lain Ubisoft Abu Dhabi, RedLynx, dan Massive Entertainment yang mengembangkan The Division.
Ubisoft juga mewajibkan seluruh karyawan kembali bekerja dari kantor lima hari dalam seminggu. Kebijakan ini tetap disertai jatah hari kerja jarak jauh setiap tahun.
Reset bisnis Ubisoft turut memengaruhi proyeksi keuangan perusahaan. Target pendapatan tahun ini diturunkan menjadi 1,5 miliar euro atau sekitar Rp 29,6 triliun.
Penurunan target tersebut membuat proyeksi pemasukan berkurang sekitar 330 juta euro. Nilai tersebut setara dengan kira-kira Rp 6,5 triliun.
Ke depan, fokus utama Ubisoft akan diarahkan pada game open world dan layanan langsung. Strategi ini menjadi pilar utama dalam restrukturisasi Ubisoft.
Sebagai bagian dari reset besar, Ubisoft merombak struktur pengembangan global menjadi lima unit baru yang disebut Creative House Ubisoft. Setiap unit akan beroperasi layaknya entitas bisnis mandiri.
Creative House pertama bernama Vantage Studios. Unit ini menangani tiga franchise terbesar Ubisoft, yaitu Assassin’s Creed, Far Cry, dan Rainbow Six.
Creative House kedua difokuskan pada game shooter. Portofolio unit ini mencakup The Division, Ghost Recon, dan Splinter Cell.
Creative House ketiga mengelola game live service seperti For Honor, The Crew, Riders Republic, dan Skull and Bones.
Creative House keempat menaungi game naratif dan fantasi. Judul yang berada di bawah unit ini meliputi Anno, Rayman, Prince of Persia, serta Beyond Good and Evil 2.
Creative House kelima berfokus pada game kasual dan keluarga. Beberapa judulnya adalah Just Dance, Uno, Hungry Shark, dan Ketchapp.
Melalui pembentukan Creative House Ubisoft, perusahaan berharap struktur baru ini mampu mendukung strategi jangka panjang. Reset bisnis Ubisoft pun diposisikan sebagai fondasi untuk menghadapi dinamika industri game global.
